Excerpt for Motivasi Hidup by , available in its entirety at Smashwords


Motivasi Hidup

Copyright 2017 Laily Adha Intan Putri

Diterbitkan oleh Laily Adha Intan Putri di Smashwords




Daftar Isi


  1. Kata Pengantar

  2. Ingin Bahagia? Ini Kunci Rahasianya

  3. Gagal? Apakah Doa Kita Tidak Terkabul?

  4. Jangan Lupakan Temanmu Mendaki

  5. Flashback? Penting Ga Sih?!

  6. Cara Memandang Kegagalan

  7. Lagi Ga Bisa Sedekah? Gimana, Dong?

  8. Hal Paling Berharga, Kok, Kamu Buang Terus!

  9. Kamu Tidak Membutuhkan Dia?

  10. Cara Sederhana untuk Bersyukur

  11. Cara Berdoa yang Benar

  12. Punya Target yang Tak Kunjung Tercapai?

  13. Hati-hati dengan Orang yang Tulus

  14. Lupakan Target Besarmu

  15. Permintaan Maafmu Ditolak? Simak Ini

  16. Minta Maaflah Pada Dirimu

  17. Konsep Ketulusan

  18. Tentang Penulis

  19. Kontak Penulis





Kata Pengantar


Era ‘kids zaman now’ yang sedang marak diperbincangkan menggerakkan hati saya untuk membawa beberapa perubahan pada pola pikir dan mindset mereka tentang kehidupan. Zaman gadget, sosial media, dan teknologi lainnya memang sudah mengubah pola pikir dan pola hidup sebagian besar anak-anak, remaja, bahkan orang tua yang ‘kekinian’.


Yang dianggap hebat bukan lagi orang yang paling pintar di sekolahnya, paling banyak prestasi,atau yang paling banyak berkarya, tapi orang yang hebat ‘zaman sekarang’ adalah orang yang eksis di instagram, twitter, facebook, dan media sosial lainnya. Apakah itu salah? Sebenarnya tidak.


Tapi, kita sadari atau tidak, kita sedang terjerumus di era teknologi yang semakin canggih. Ketika berkumpul, orang-orang sibuk dengan gadget masing-masing, komunikasi langsung berkurang bahkan hilang. Ketika makan, jalan-jalan, menonton, atau kegiatan lainnya, semua orang sibuk dengan ‘snapgram’. Sibuk dengan ‘mengabadikan’ bukan ‘menikmati’.


Kasih sayang makin berkurang, petemuan langsung makin jarang, pacaran meraja lela, galau dimanapun dan kapanpun. Dikit-dikit sedih, dikit-dikit ngeluh. Saya ingin bertanya, “kalian mau jadi apa? Tujuan kalian hidup di dunia ini untuk apa?”


Stop galau, stop bimbang, stop sedih. Hidup ini hanya satu kali. Berkaryalah di bidang yang akan dan telah kalian pilih. Kuasai hingga jadi ahli. Berbagilah, tebarkan manfaat untuk sesama. Jangan habiskan waktu kalian untuk urusan yang sebenarnya tidak terlalu penting.


Kalau kalian masih tetap pada kesombongan kalian, saya ingin tanya lagi “Kalian mati nanti ingin jadi seperti apa?” Renungkan, “Bagaimana orang lain mengenang kalian?” Kalau hati kalian tidak sekeras batu, kalian pasti akan melenjutkan membaca. Terimakasih.




Ingin Bahagia?

Ini Kunci Rahasianya


Pernahkah kamu merasa di titik paling jenuh dalam hidup? Apa yang kamu rasakan? Hampa, bukan? Kamu merasa rancu dengan kehidupan kamu yang sekarang. Lelah dengan apa yang sedang kamu jalani. Saat-saat seperti itu memang ada. Tidak selamanya kita berada di titik semangat. Tapi, coba renungkan beberapa poin penting ini.


  1. Sudahkah kamu bersyukur?


Syukur. Hal yang sangat mudah dilupakan seseorang. Padahal, itu adalah senjata paling ampuh untuk membahagiakan diri sendiri. Kita terkadang terlalu fokus pada apa yang belum kita miliki tanpa menyadari bahwa kita sudah dianugerahi banyak hal.


Kita sangat sedih karena belum memiliki mobil pribadi misalnya. Padahal kita sudah memiliki keluarga yang harmonis, kedua orangtua yang masih hidup, kesehatan, dan yang lainnya. Tragisnya, terkadang kita baru menyadari kalau kita bahagia memiliki semua itu ketika apa yang kita miliki telah pergi. Jangan sampai kita menjadi orang penuh sesal, ya.


  1. Berkhayal


Tentu saja bukan berkhayal tentang apa yang belum kita miliki. Tapi berkhayallah tentang apa yang sudah kita miliki. Apa maksudnya?


Sekarang, lihatlah diri kamu sendiri. Apa jadinya kalau matamu diambil? Apa jadinya kalau kenikmatan bernafasmu diambil, disesakkan? Bayangkan, kamu bisa menghirup udara segar dengan sangat mudah saat ini.


Tapi lihatlah di kejauhan sana, banyak orang yang sedang terbaring lemah menghirup tabung oksigen. Bayar lagi. Kenapa kamu yang masih bisa menikmatinya secara gratis malah sedih?


Satu contoh lagi. Bayangkan kalau orang yang kamu sayangi harus pergi. Entah pergi sementara atau selamanya. Tidak ingin, kan? Kalau kamu bisa memandang hidup dari segi apa yang kamu miliki. Percayalah, bahwa sebenarnya kamu sangatlah kaya.


  1. Bahagiakan Orang Lain


Jika ingin kaya, maka banyaklah memberi. Jika ingin pintar, maka banyaklah berbagi. Jika sedang sedih, maka banyaklah menghibur orang lain. Kenapa malah seperti itu? Jangan tanya kenapa, tapi praktikan dulu apa yang baru saja saya sampaikan.


Begini, jika kita memberi sesuatu kepada orang lain, maka disitulah kita menyadari kalau kita tidaklah miskin. Kita masih bisa memberi orang lain, itu berarti kita juga kaya. Entah itu memberi uang, tenaga, bahkan waktu sekalipun.


Begitu juga dengan memberi kebahagiaan kepada orang lain. Maka sebagai manusia normal, kita pasti akan merasakan kebahagiaan yang sama.


  1. Meminta Maaf pada Diri Sendiri


Ketika perasaan jenuh itu timbul. Tentunya kita akan merasa sangat malas. Badan seakan menolak semua yang ingin kita kerjakan. Pikiran kita meracuni badan kita sendiri. Maka minta maaflah pada dirimu sendiri. Akibat pikiran jenuhmu, badanmu jadi ikut jenuh.


Berjanjilah pada dirimu bahwa kamu akan merasa bahagia memiliki diri kamu sendiri. Tidak perlu iri dengan milik orang lain. Karena terkadang, kita hanya melihat orang lain dari satu sisi. Padahal sebenarnya apa yang kalian miliki itu sama saja. Hanya berbeda dari cara menampakkan kebahagiaan itu ke orang lain.


Maka, jadilah pribadi yang selalu bahagia, baik di mata diri sendiri, maupun di mata orang lain. Kamu mungkin tidak menyadari, kalau banyak juga yang iri kepadamu. Hayooo, coba renungkan.


  1. Berusaha


Hidup tidak hanya sampai disitu. Kita harus terus bergerak. Mensyukuri apa yang kita miliki dan mengusahakan apa yang belum kita miliki. Tentu saja tidak ada salahnya. Kita harus menjadi pribadi yang lebih baik dari sekarang.


Nah itu dia lima kunci rahasia untuk mencapai kebahagiaan. Masih belum bahagia? Hei, kalian belum mempraktekkannya. Jikalau sudah dan masih belum bahagia, mungkin poin-poin di atas ada yang belum sempurna kamu terapkan. Percayalah, ini ampuh.




Gagal ? Apakah Doa Kita

Tidak Terkabul?


Kalian pasti pernah berpikir mengapa Tuhan seakan tidak adil. Kalian yang sudah berusaha, berdoa, bersedekah, menegakkan kejujuran, hingga tidak tahu apalagi yang belum kalian perbuat untuk memperjuangkan apa yang kalian impikan. Sedangkan orang lain yang pemalas dan selalu berbohong malah lulus dengan mudah, dimana-mana pula. Apakah Tuhan sama sekali tidak mendengar doa kita?


Sahabat, Tuhan itu Maha Besar. Jika di dunia ini hanya bisa dilihat sebatas empat dimensi. Maka Kekuasaan Tuhan lebih dari itu. Jangan pernah memandang Tuhan hanya dari satu sisi.


Kita tidak boleh tiba-tiba menghakimi Tuhan hanya karena suatu cobaan yang diberikan-Nya. Tuhan bukan tidak mendengarkan dan mengabulkan doa kita. Tapi, Dia mengabulkannya dengan wujud dan waktu yang lain.


Sesungguhnya, ketika kita berdoa, Tuhan pasti akan mengabulkannya sesuai dengan apa yang kita butuhkan, bukan yang kita inginkan. Dan hanya Tuhan yang tahu apa yang kita butuhkan.


Ketika kita berdoa, ada empat kemungkinan dari jawaban Tuhan. Pertama adalah dikabulkan sesuai dengan yang kita inginkan, tepat di saat yang kita inginkan.


Kedua adalah dikabulkan sesuai dengan apa yang kita inginkan, di waktu yang berbeda. Misalnya kalian sedang gagal di tes perguruan tinggi. Mungkin tidak lulus tahun itu, tapi tahun depan, atau tahun depannya lagi.


Ketiga adalah dikabulkan dengan bentuk yang lain. Misalnya kamu ingin lulus di A. Tapi malah lulus di B. Sungguh Tuhan benar-benar mengabulkannya, mungkin itu yang terbaik menurut-Nya.


Keempat adalah Tuhan tidak mengabulkan doamu. Mungkinkah terjadi? Tentu saja. Tuhan menggantinya dengan pahala di akhirat kelak. Sesungguhnya tak akan rugi dari jawaban keempat ini. Akhiratlah tempat yang paling abadi.


Sahabat, teruslah berdoa dan memohon pada Tuhan. Tapi ingat, kita hanya boleh meminta, tapi bukan berarti memaksa. Kita tidak berhak mengatur takdir, apalagi mengatur Tuhan.




Jangan Lupakan

Temanmu Mendaki


Mungkin kalian pernah merasakan berada di titik hancur, gagal, terpuruk, bahkan jatuh sejatuh-jatuhnya. Kalian seakan enggan untuk berjalan, bahkan untuk sekedar berdiri pun kalian merasa tidak mampu.


Kemudian datang beberapa orang melihat kamu yang terjatuh lalu bertanya. “kenapa?”kamu pun diam. Enggan untuk menjawab karena tidak ingin dikasihani. Bahkan kamu tidak tau apa mereka akan kasihan atau malah tertawa. Yang jelas, kamu enggan menjawab.


Meski orang-orang itu tidak tahu kamu kenapa, tapi mereka pasti mengerti kalau kamu sedang tersungkur, jatuh. Jadi untuk apa kamu jelaskan, mereka bisa melihatnya sendiri.


Kemudian orang-orang makin banyak mengerumunimu, melihat kamu yang sedang tersungkur. Masih pula bertanya kenapa. Kamu merasa semakin muak terus dikerumuni.


Mereka pun pergi, meninggalkanmu setelah puas mencari informasi keadaanmu. Lalu sibuk begitu saja dengan kebahagiaan mereka. Kamu sendirian. Ah, mungkin ini lebih baik daripada mereka mengerumuni keterpurukanmu. Kamu merasa sangat hampa, kosong, tidak punya teman.


Lalu datang satu persatu orang. Bukan seperti yang tadi, sibuk bertanya kenapa. Orang ini langsung mengulurkan tangannya, mengajakmu berdiri. Tidak ada gunanya terus terpuruk.


Kamu enggan berbicara, enggan juga menerima uluran tangan itu. Kamu tidak ingin dikasihani. Kamu masih merasa hancur dan tidak mampu untuk bangkit.


Orang-orang itu meneriakimu, menasehatimu. Sakit memang. Tapi siapa sangka kalau mereka mampu mengajakmu berdiri. Kamu pun tersenyum, lalu menerima uluran tangan itu. Sekarang kamu mampu berdiri.


Lalu, beberapa dari mereka memilih pergi, karena kesibukan masing-masing. Dan sekarang, orang-orang itu makin berkurang. Mereka menyuruhmu untuk berjalan.


Kamu enggan, merasa tidak akan kuat. Kamu merasa sangat lemah dan tidak berdaya. Tapi lagi-lagi mereka meneriakimu, meyakinkanmu kalau kamu harus mulai berjalan.


Kamu berjalan, masih ketakutan untuk menengok ke belakang, tempat dimana kamu terjatuh. Mereka terus menemani kamu berjalan, perlahan, kemudian mengajakmu berlari.


Kali ini kamu menurut, kamu terus berlari. Meski temanmu rasanya semakin berkurang, tapi kamu sudah mampu berlari, meniggalkan semua kepahitan itu.


Ada beberapa yang mengejar, ingin ikut. Kamu hanya tersenyum dan terus berlari. Dan kamu memutuskan untuk menengok ke belakang.


Kamu tertegun, astaga, jauh sekali titik jatuh itu kamu tinggalkan. Kamu tidak menyangka kalau kamu sudah berlari sangat jauh.


Lalu, di hadapanmu ada bukit yang begitu terjal. Sebagian memilih meninggalkanmu, tidak sanggup menemani, berbahaya.


Temanmu makin sedikit. Hanya dua atau tiga yang masih sanggup menemani. Kalian mulai mendaki, terus. Meski sakit, meski terjatuh, meski putus asa, tapi kalian terus melanjutkan perjalanan.


Hingga akhirnya, kamu hampir tiba di puncak itu. Kamu terkejut, banyak sekali orang-orang yang menunggumu disana. Berteriak, berkata kamu hebat.


Purchase this book or download sample versions for your ebook reader.
(Pages 1-10 show above.)